• A: bisa diceritakan salah saya apa?
  • B: tidak tau
  • A: apa salah kalau mencoba jujur terhadap diri sendiri?
  • B: tidak
  • A: lalu? kenapa termakan oleh asumsi sendiri?
  • B: asumsi hanyalah asumsi, setiap orang punya penilaian tersendiri
  • A: oke, bisa diterima
  • B: salah atau benar itu bukan suatu keputusan dalam hal ini
  • A: lalu?
  • B: tidak ada yang salah, tidak ada juga yang dapat dibenarkan
  • A: memang
  • B: masalahnya adalah waktu
  • A: maksudnya?
  • B: pada waktu yang bersamaan merasa tinggi saat orang lain sedang berada di titik terendah
  • A: jadi harus bagaimana?
  • B: itu dia, tidak harus bagaimana-bagaimana, jalani saja
  • A: ke depannya diibaratkan seperti roda mungkin?
  • B: yap, bisa seperti itu, semua dipukul rata. Sama saja kok.
  • A: namanya hidup, harus siap dengan kemungkinan terburuk, bukan?
  • B: betul.. Mulai paham kan?
  • A: iya, sebenarnya sudah tau, hanya ingin tau kalau dalam hal ini ternyata otak lainpun berpikiran sama.
  • B: :)
  • A: terima kasih:)

Menjaga perasaan orang lain itu kadang samar maknanya dengan membohongi orang tersebut.
Bagaimanapun, kenyataan yang pahit saat ini jauh terlihat lebih baik daripada terlena dengan kebohongan yang (tampak) manis.

S: kenapa aku gak (bisa) marah sama sesuatu yang biasanya/seharusnya ditanggapi dengan marah?
A: kemungkinannya 2, 1. belum terlalu ‘dalam’, 2. kamu udah dewasa

Bukit Padasuka

Bukit Padasuka

City lights

City lights

Reblogged from Kuntawiaji

Halaman terakhir

Berlarilah ke mana angin berhembus

Bersaunglah ke tepi jika letih meraja

Pastikan selalu ada yang tersenyum di sana

Tetapkanlah sehingga tak ada ragu

 

Berlarilah ke mana angin berhembus

Dan jika hujan air mata adalah pertanda

Dimana kau harus hentikan langkah

Tetapkanlah sehingga tak ada ragu

 

Ada saatnya kau harus terbang

Dari semua kebahagiaan yang pernah menaungimu

Dari semua keceriaan yang menyayangimu

Bahkan dari keterpurukan yang pernah menyertaimu

 

Karena tak semua itu indah

Karena tak semua itu diksi

Saat ada sebuah awalan

Saat itu pulalah ada akhiran di sampingnya

 

Dan karena tak semua berakhir sempurna

Tetapi tak semua juga berakhir keropos

Meski begitu buatlah sebuah goresan akhir

Goresan yang akan menghapus segala sayat luka

 

Karena selalu tersimpan cinta dalam cita

Rasakanlah semua dengan rasa syukur

Syukur yang dalam karena kita pernah bersama

Dalam sebuah kata dalam hatimu, ATHENA


Tags: dagboek
Manusia bukan penepat janji yang baik, bukan sesuatu yang pantas di tunggu.
— Mikha C Tampubolon (via mikhact)

Sebuah Dialog #6

  • A : Aduh aku lupa!
  • B : Ya, cepat
  • A : Astaga aku belum selesai!
  • B : Selesaikan dulu segera
  • A : Aduh tadi dimana kuletakkan benda itu?
  • B : Disana, bukan?
  • A : Ah ya ya! Aku ingat! Di pojok sana!
  • B : Yakin?
  • A : Ya, yakin! Ah bagaimana ini?
  • B : Bagaimana apanya?
  • A : Ini.. susah sekali!
  • B : Apanya yang susah sih? Kubantu sini.
  • A : Terimakasih…
  • B : Kamu ini bagaimana bisa begini sih..
  • A : Begini bagaimana?
  • B : Ya yang begitu tadi. Betul betul…
  • A : Betul betul apa?
  • B : Ya itu, bertanya terus! Berisik sekali.
  • A : Ah… maaf aku tidak bermaksud berisik.
  • B : Sudahlah.
  • A : Marahkah?
  • B : Tidak kok
  • A : Tapi jawabannya tidak santai begitu..
  • B : Ini biasa saja namanya.
  • A : Oh..
  • B : Nah itu juga! Perasa sekali.. Semua serba serbi dimasukkan dalam hati. Hatimu terlalu besar
  • A : Tidak juga kok, aku bisa acuh tak acuh pula!
  • B : Hahahaha tak perlu begitu lah
  • A : Ya tapi betul, aku bisa acuh tak acuh, kamu saja belum lihat!
  • B : Sudah lihat dan tidak pernah. Hahaha
  • A : Kamu ini selalu tertawa ya menanggapi aku? Lucu kah?
  • B : Tidak lucu, tapi mengesalkan.
  • A : Hahahaha, kamu begitu paradoks.
  • B : Nah itu mengerti.. hahaha
  • A : Sabar juga ya kamu?
  • B : Yang ada justru kebalikannya, kamu yang sabar.
  • A : Tidak kok, aku biasa saja.
  • B : Dengan semuanya? Bagaimana dengan amarah, gerutu, gumaman kesal, sarkasme milikku? Bukankah kamu benar benar sabar menghadapinya?
  • A : Sabar kan hanya untuk orang yang tidak siap. Kaget, jadi harus membuat diri menjadi sabar. Lagipula, memang kamu bisa menjelaskan tentang sabar?
  • B : Yang jelas sabar itu tidak terbatas.
  • A : Menurutku sabar itu sebenarnya tidak ada. Kalau sudah tau mengapa harus berusaha sabar. Yang benar adalah penerimaan
  • B : Ketulusan ya?
  • A : Itu dia! Kamu sabar kah denganku?
  • B : Biasa saja..
  • A : Itu juga jawaban ketulusan kamu. Kamu biasa saja karena kamu tulus untuk mau mengerti aku
  • B : Tentu saja aku tulus! .. Gila ya, 30 tahun. Lucu sekali rasanya mendapati kamu disini.
  • A : Ya, luar biasa. Tidak pernah ada dalam pikiranku 30 tahun yang diisi dengan manusia seperti kamu.
  • B : Seperti aku yang bagaimana?
  • A : Ya.. yang seperti kamu! Hahaha
  • B : Kita ini dari dulu pun begini saja. Seperti yin yang, kutub magnet. Aneh tapi nyata ya.
  • A : Aneh, tapi seimbang kan?
  • B : Ya, setuju. Kamu… sampai kini pun masih jenaka.
  • A : He? Jenaka?
  • B : Ya. 30 tahun hidup dalam kejenakaanmu itu lah yang mungkin membuatku sehat.
  • A : Kamu pun tidak sadar kalau kamu lucu?
  • B : Hahaha itu sih sadar!
  • A : Sudah tua pun masih sempat sombong! Hahaha. Ya.. lucu, apalagi kalau sudah marah-marah.
  • B : Rasanya tidak ada lagi yang bisa kita ucapkan selain syukur, ya?
  • A : Syukur atas penerimaan masing masing dari kita.. ketika yang banyak orang lihat sebagai kekurangan tapi bagi kita justru menjadi kelebihan.
  • B : Ya, syukur atas ketulusan yang tidak ternilai. Tidak bersifat materi tapi nyata, kekal.
  • A : Hahaha tumben kamu sentimental begitu..
  • B : Tumben kamu mendadak sanguin begitu!
  • A : Hahaha
  • B : Eh ubanmu dan ubanku lebih banyak siapa?
  • A : Sepertinya kamu. Kan kamu lebih sibuk.
  • B : Kamu pun sibuk disini, hingga angka angka banyak terlewati, mereka menjadi yang sekarang pun karena kamu.
  • A : Salah! Karena kita berdua..
  • B : Kita, tentu saja..
  • A : Kalau begitu mungkin uban kita sama jumlahnya ya…
  • B : Tidak peduli lagi aku dengan uban. Sini, kukecup keningmu yang sudah keriput itu!
  • .
  • Imaji dialog sepasang kakek nenek, di suatu senja di kebun belakang rumah.
Reblogged from moonchild journal

silfarione:

Amazing photos of a family in the 1970’s that lived with a lion by Michael Rougier. (LIFE Archive)

Reblogged from moonchild journal
Pembunuhan karakter paling kejam adalah persepsi
— (via mutiararizqie)
Reblogged from remarque

Skenario Tuhan

Tuhan memang pembuat skenario yang gak akan bisa diprediksi oleh manusia. I’ve been there. Saya pernah berada di posisi yang seperti itu dan sekarang berada di posisi yang seperti ini. Bahkan posisi saya yang saat ini pernah menjadi bahan cemoohan saya di masa lalu, saat saya masih berada di posisi itu. Tapi Tuhan sedikit mengajak saya bercanda, dan saya baru paham, gak ada yang salah ternyata dalam skenario Tuhan, yang salah adalah manusia yang gak bisa menerima ketentuan Tuhan. Tapi semua butuh proses, saya juga pernah dalam keadaan ‘hidup enggan, mati tak mau’ seperti ‘mayat hidup’, dalam artian semua yang terjadi gak bisa dinalar sama sekali dan rasanya seperti dipermainkan. Beruntungnya saya, banyak orang-orang terdekat yang selalu mendorong dan mengingatkan saya untuk terus maju dalam fase-fase yang saya jalani, sampai akhirnya saya berada dalam suatu fase yang disebut ikhlas. Butuh waktu lama sampai ke fase itu, pasti. Untuk mencapai suatu pemahamanpun begitu. Sampai saat ini saya gak pernah menyesal dengan waktu-waktu yang (mungkin) dihabiskan dengan sesuatu/seseorang yang menurut saya dulu adalah sia-sia. Dia, mereka, atau siapapun itu, gak ada yang salah ternyata. Orang-orang itu adalah perantara untuk membuat saya menjadi lebih dewasa. :)

Banyak hikmah yang bisa diambil dari pengalaman, apalagi masalah kepercayaan dan harapan. Jangan berlebihan, karena nanti jadi samar rasanya antara obsesi, egois, dan rasa sayang. Jangan kekurangan juga, karena nanti kita gak bisa menikmati apa yang ada sekarang. Kalau kata Pandji, “apa yang hilang akan tergantikan”. Rasanya memang gak sabar menunggu kejutan dari Tuhan, tapi pas gak ditunggu, kejutan itu malah datang. ya iyalah, namanya juga kejutan. haha. Udah mulai gak jelas. Intinya, ikutin aja skenario Tuhan. Insya Allah diberi yang terbaik untuk kita. :) yuk ah, dadaah.

Tags: dagboek

If only you’ll hold on, just hold on
I’m here and I’m with you
I’m here too I feel you
We’ll get through
I know this, I’ve seen it
A hundred times, a thousand times
Just one more time
With you and I, I’ll pull you close
And then we’ll say goodbye

Steve Aoki ft. Kid Cudi and Travis Barker - Cudi the Kid